<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<rss version="2.0"
					xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
					xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
				  >
<channel>
<title>Etoeacax&#039;s Mobile Blog</title>
<link>http://http://etoeacax.mywapblog.com/</link>
<description><![CDATA[Cari ilmu yg bermanfaat, dan baca-baca di sini gratis]]></description>
<pubDate>Thu, 22 Jul 2010 06:17:00 +0000</pubDate>
<item>
<title>photo 2</title>
<link>http://etoeacax.mywapblog.com/photo-2.xhtml</link>
<pubDate>Thu, 22 Jul 2010 06:17:00 +0000</pubDate>
<description><![CDATA[<img src="http://etoeacax.mywapblog.com/files/04062010.jpg" />]]></description>
</item>
<item>
<title>Photo</title>
<link>http://etoeacax.mywapblog.com/photo.xhtml</link>
<pubDate>Thu, 22 Jul 2010 06:15:00 +0000</pubDate>
<description><![CDATA[<img src="http://etoeacax.mywapblog.com/files/04062010_2.jpg" />]]></description>
</item>
<item>
<title>gempa datang lagi</title>
<link>http://etoeacax.mywapblog.com/post/41.xhtml</link>
<pubDate>Mon, 05 Oct 2009 15:47:06 +0000</pubDate>
<description><![CDATA[gempa dtng lg di padang bnyk saudara kita yg trtimpa bencna dn,mari kta renungkn ap yg slah pda diri kta sampai2 allah murka kpd kita.<br />
kenapa......?]]></description>
</item>
<item>
<title>DA&#039;WAH TAUHID DA&#039;WAH YANG HAQ</title>
<link>http://etoeacax.mywapblog.com/post/40.xhtml</link>
<pubDate>Mon, 07 Sep 2009 16:30:46 +0000</pubDate>
<description><![CDATA[<div style="text-align:center"><img src="http://angger.wen.ru/cn/bismib.gif" /></div>
<br />
DA&#039;WAH TAUHID DA&#039;WAH YANG HAQ<br />
Penulis: Syaikh Abdul Malik bin Ahmad Ramadhany<br />
<br />
<br />
Mengikhlaskan agama hanya untuk Allah ( Tauhid ) merupakan pokok ajaran agama islam, yang mana karena hal tersebut inilah Allah menurunkan kitab-kitab- Nya serta mengutus para Rasul, dan seluruh para Nabi menyerukan ( menda&#039;wahkan ) hal ini serta berjihad dengannya.<br />
Allah Subhanahu wa Ta&#039;ala menyatakan dalam firman-Nya :<br />
&quot;Maka sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ( memurnikan ) agama ini.&quot;<br />
(QS. Az-Zumar : 2).<br />
Dalam firman-Nya yang lain :<br />
&quot;Dan tidaklah mereka diperintah kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan ( memurnikan ) agama ini bagi- Nya.&quot; (QS. Al-Bayyinah : 5).<br />
Dan kedudukan Tauhid itu ibarat pondasi pada sebuah bangunan.<br />
Al Imam Ibnu Qoyyim rahimahullah berkata : &quot;Barang siapa yang ingin meninggikan bangunan, maka wajib atasnya untuk menguatkan dan memantapkan pondasinya serta bersungguh- sungguh untuk menfokuskan perhatian kepadanya, karena tingginya bangunan tersebut tergantung pada kuat serta mantapnya pondasi itu. Maka amalan dan tingkatan- tingkatannya adalah ( ibarat ) bangunan dan pondasinya adalah keimanan. Maka orang yang bijaksana itu cita-citanya adalah membetulkan dan memantapkan pondasi, adapun orang yang bodoh (adalah orang yang) mendirikan bangunan tanpa adanya pondasi, sehingga tidak lama bangunannya akan runtuh.<br />
Allah Ta&#039;ala berfirman :<br />
&quot;Maka apakah orang-orang yang mendirikan masjidnya di atas dasar takwa kepada Allah dan keridhoan-Nya itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama- sama kedalam neraka jahanam ? Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang dholim,&quot;<br />
(QS. At-Taubah : 109).<br />
(lihat keterangan ini dalam kitab Al-Fawaid, hal 204).<br />
Aku (Syaikh Abdul Malik Ramadhany) katakan : &quot;Ayat ini turun tentang orang-orang munafik yng membangun masjid untuk ditegakkan sholat di dalamnya. Akan tetapi ketika mereka mengerjakan amalan yang agung serta mulia ini, hati mereka kosong dari keikhlasan dan tidak bermanfat bagi mereka sedikitpun, bahkan mereka jatuh kedalam neraka jahanam sebagaimana tersebut dalam ayat ini.&quot; (lihat kitab Sittu Duror, hal 13-14)&quot;.<br />
Al Imam Ibnul Qoyyim menyatakan :<br />
&quot;Pondasi itu ada dua hal :<br />
Pertama : Benarnya pengenalan kepada Allah dan perintah-Nya serta nama-nama dan sifat- sifat-Nya.<br />
Kedua : Memurnikan ketundukan kepada Allah dan Rasul-Nya, tidak kepada yang lainnya. Maka ini adalah sekuat-kuatnya pondasi yang di gunakan seorang hamba untuk bangunannya.&quot;<br />
Ketika Tauhid itu ibarat pondasi bagi sebuah bangunan dan akar dari sebuah pohon, maka perintah pertama yang kita jumpai ketika kita membuka Al- Qur&#039;an dari awal adalah firman Allah Ta&#039;ala :<br />
&quot;Wahai manusia beribadahlah kepada Rabb kalian yang menciptakan kalian dan orang- orang sebelum kalian agar kalian menjadi orang-orang yang bertakwa.&quot;<br />
(QS. Al Baqarah : 21).<br />
Kemudian setelah ayat ini langsung diikuti dengan larangan dari apa-apa yang menentang Tauhid, yakni syirik. Allah berfirman :<br />
&quot;Maka janganlah kalian jadikan tandingan-tandingan (sekutu) bagi Allah sedangkan kalian mengetahuinya &quot; (QS. Al Baqarah : 22).<br />
Di sini terdapat faedah yang besar, yaitu Allah Subhanahu wa Ta&#039;ala tidak hanya memerintahkan kepada kita untuk beribadah kepada-Nya, akan tetapi Allah melarang kita dari apa-apa yang membatalkan hal tersebut, yaitu beribadah kepada selain-Nya (syirik). Maka lihatlah di dalam Al Qur&#039;an, kita akan menjumpai hukum yang berturut-turut, diantaranya firman Allah :<br />
&quot;Sembahlah Allah dan janganlah kalian menyekutukan dengan selain-Nya,&quot;<br />
(QS. An-Nisa : 36).<br />
Dalam firman-Nya yang lain :<br />
&quot;Dan sungguh kami tidak mengutus seorang Rasul pada setiap ummat (untuk menyeru) &quot;sembahlah Allah dan jauhilah taghut.&quot;<br />
(QS. An-Nahl : 36).<br />
Syaikh Mubarok Al-Mily berkata : &quot;Tidak cukup di dalam dua kalimat syahadat dengan semata bertauhid saja, sampai dia meniadakan berbagai macam sesembahan yang lain dan membatasi syari&#039;at ini hanya pada seseorang yang di utus untuk menyampaikan agama ini (yaitu Rasulullah shalallahu wa sallam).<br />
Syirik adalah perbuatan haram nomor satu yang di larang oleh Allah Ta&#039;ala sebagaimana dinyatakan dalam firman-Nya :<br />
&quot;Katakanlah (wahai Muhammad), &quot;marilah kalian, akan aku bacakan apa saja yang di haramkan oleh Rabb kalian atas kalian, yaitu janganlah kalian menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun...&quot;<br />
(QS. Al-An&#039;am : 151).<br />
Dan wasiat petama yang di wasiatkan oleh Luqman Al-Hakkim kepada putranya adalah :<br />
&quot;Wahai anakku, janganlah kamu menyekutukan Allah (syirik) itu adalah kedholiman yang sangat besar. &quot; (QS. Luqman : 13).<br />
Dalam Tauhid itu adalah wasiat para Nabi ketika akan menghadapi kematian.<br />
Allah Ta&#039;ala berfirman :<br />
&quot;Adakah kami hadir ketika Ya&#039;qub kedatangan (tanda-tanda) kematian, ketika itu ia berkata kepada anaknnya &quot;Apakah yang kalian sembah sepeninggalku ? &quot;Mereka menjawab : &quot;Kami akan menyembah tuhanmu dan tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail, dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa, dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.&quot;<br />
(QS. Al-Baqarah : 133)<br />
Oleh karena itu, para da&#039;i yang mengajak untuk bertauhid adalah seutama-utama da&#039;i, karena dakwah tauhid adalah dakwah yang menyeru kepada derajat iman yang paling tinggi. Sebagaimana di nyatakan oleh Rasulullah shalallahu &#039;alaihi wa sallam :<br />
&quot;Iman itu ada tujuh puluh atau enam puluh lebih cabang yang paling utama adalah kalimat Laa ilaha illallah, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan malu adalah salah satu cabang keimanan.&quot; (HR. Muslim).<br />
Imam An-Nawawi rahimahullah menyatakan :<br />
&quot;Rasulullah telah mengingatkan bahwa cabang keimanan yang paling utama adalah Tauhid yang wajib atas setiap orang (untuk mengetahui ) dan tidak sah sesuatu pun dari cabang-cabang tersebut kecuali setelah benarnya Tauhid,&quot; (lihat kitab Syarah Shohih Muslim jilid 1 , hal 20).<br />
Aku (Syaikh Abdul Malik Ramadhany) katakan :<br />
&quot;Akan tetapi cabang-cabang keimanan ini tidak akan tumbuh dalam hati seseorang dan tidak akan berbuah pada anggota badannya kecuali sesuai dengan (seberapa jauh makna) kalimat thoyyibah ini di laksanakan oleh seorang hamba.&quot;<br />
Hal ini di karenakan bagusnya hati pada jasad. Dalam sebuah hadist dari An-Nu&#039;man bin Basyir radhiayallahu&#039;anhu, bahwasanya Rasulullah shalallahu &#039;alaihi wa sallam bersabda :<br />
&quot;Sesungguhnya di dalam tubuh seseorang itu terdapat segumpal daging, Jika ia baik, maka akan baiklah seluruh anggota tubuh. Jika ia rusak, maka akan rusaklah seluruh anggota tubuh. Ketahuilah, dia itu adalah hati.&quot; (HR. Bukhori-Muslim).<br />
Di dalam hadits ini terdapat dalil yang jelas bahwa memperbaiki Tauhid adalah pokok segala kebaikan dan perkara yang paling agung. Oleh karena itu seluruh dakwah yang menyerukan kepada kebaikan yang tidak memusatkan pada urusan Tauhid, akan mengalami penyelewengan (penyimpangan) sesuai dengan jauhnya dia dari pokok yang mulia ini, yaitu Tauhid.<br />
Seperti mereka (kelompok- kelompok dakwah) yang menghabiskan waktunya untuk memperbaiki hubungan sesama manusia tetapi hubungan dengan Allah (yaitu perkara Aqidahnya) tidak sesuai dengan tuntunan salafus shalih.<br />
Atau ada juga kelompok- kelompok dakwah yang menghabiskan waktunya untuk menyerang atau mengkritik pemerintah dengan tujuan memperbaiki masyarakat atau dengan cara politik untuk menghancurkan pemerintah dengan tanpa memperdulikan kerusakan aqidah para pengikutnya.<br />
Atau ada juga mereka (kelompok-kelompok dakwah) yang dalam dakwahnya tidak memperhatikan dan tidak memulai dakwahnya pada Tauhid dengan anggapan bahwa Tauhid itu akan memecah belah umat, atau umat akan lari darinya, atau juga dengan anggapan bahwa masyarakat sudah paham semua tentang Tauhid sehingga mereka dengungkan (dakwahkan) setiap saat adalah bagaimana membentuk daulah Islam (Negara Islam).<br />
Apakah mereka tidak mendengar do&#039;a Nabi Ibrahim alaihis salam yang mana beliau kuatir terjatuh dalam kesyirikan, beliau berdo&#039;a :<br />
&quot;Wahai Tuhanku, jadikanlah negeri kami ini negeri yang aman, serta jauhkanlah aku dan anak keturunanku dari penyembahan kepada patung- patung (berhala). Wahai Tuhanku, sesungguhnya mereka (berhala-berhala itu) telah menyesatkan mayoritas manusia. &quot; (QS. Ibrahim : 35-36).<br />
Oleh karena itu Rasulullah shalallahu &#039;alaihi wa sallam menekankan kepada para da&#039;i agar mementingkan masalah tauhid serta memulai dakwahnya dengan tauhid itu. Sebagaimana di riwayatkan dalam sebuah hadist dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma bahwa Rasulullah shalallahu &#039;alaihi wa sallam berkata kepada Mu&#039;adz bin Jabal ketika dia di utus ka Yaman :<br />
&quot;Sesungguhnya kamu akan mendatangi suatu kaum dari ahli kitab. Maka jika kamu datang kepada mereka, jadikanlah pertama kali yang kamu dakwahkan kepada mereka adalah &quot;beribadahlah kalian kepada Allah (Dalam riwayat yang lain : &quot;Agar kalian mentauhidkan Allah). &quot;<br />
(HR. Bukhori- Muslim).<br />
Oleh karena itu awalilah dakwah yang kita lakukan ini dengan dakwah tauhid sebagaimana yang di perintahkan oleh Rasulullah shallalahu &#039;alaihi wa sallam.Wallahu A&#039;lamu bishshowwab.<br />
Maraji&#039; : Kitab Sittu Durar min Ushuli Ahlil Atsar, karya Syaikh Abdul Malik bin Ahmad Ramadhany, di terjemahkan oleh Ustadz Muhammad Irfan.<br />
Sumber : BULETIN DAKWAH AT- TASHFIYYAH, Surabaya EDISI : 02 / SYAWAL / 1424]]></description>
</item>
<item>
<title>Al-Qur&#039;an untuk orang hidup bukan untuk orang mati</title>
<link>http://etoeacax.mywapblog.com/post/39.xhtml</link>
<pubDate>Mon, 07 Sep 2009 16:23:41 +0000</pubDate>
<description><![CDATA[<div style="text-align:center"><img src="http://angger.wen.ru/cn/bismib.gif" /></div>
<br />
Al-Qur&#039;an untuk Orang Hidup bukan Untuk Orang Mati<br />
Penulis: Ustadz Abu Ubaidah<br />
<br />
<br />
Al-Qur&#039;an datang menyinari hati yang gelap dan menyinari jiwa yang gersang. Dan dia datang sebagai juru nasehat bagi orang yang membutuhkan bimbingan, sebagai pembawa kabar gembira bagi orang yang mau beriman dan sebagai pemberi peringatan bagi orang yang mengingkarinya. Betapa banyak kebaikan yang dapat di rasakan dengan kedatangannya, sehingga orang yang sedih akan menjadi gembira dengan membacanya dan orang yang bingung akan menjadi tenang jalannya serta orang yang hina akan menjadi mulia dengan mempelajari dan mengamalkannya.<br />
Lebih jauh, diapun sebagai obat mujarab bagi segala penyakit. Siapa yang membaca ayat- ayatnya untuk pengobatan, maka dia akan mengetahui kehebatan Al-Qur&#039;an dengan menyembuhkan beberapa penyakit dengan seizin Allah Ta&#039;ala dan beberapa penyakit yang kalangan medis saat ini belum mampu menyembuhkannya. Sehingga tidaklah mengherankan kalau di katakan Al-Qur&#039;an adalah penawar dan rahmat bagi orang yang beriman, sebagaimana firman-Nya (yang artinya) :<br />
&quot;Dan kami turunkan Al-Qur&#039;an sesuatu yang menjadi penawar (penyembuh penyakit fisik maupun rohani) dan rahmat bagi orang yang beriman kepada-Nya. &quot;(QS. Al-Isra&#039; : 82).<br />
Bahkan di lihat dari segi pahala dan keutamaannya. Al-Qur&#039;an menyimpan sekian banyak pahala dan keutamaan bagi orang yang membaca, mempelajari, memahami dan mengamalkannya. Orang yang mahir membaca Al- Qur&#039;an maka pada hari kiamat akan di kumpulkan bersama rombongan malaikat yang mulia. Sedangkan bagi orang yang terbata-bata dalam membacanya akan mendapatkan dua pahala, yaitu pahala dia membaca Al- Qur&#039;an dan pahala kesungguhan dalam membacanya dengan baik dan benar.<br />
Al-Qur&#039;an akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa&#039;at bagi orang yang membacanya dan mengamalkannya. Bahkan Al- Qur&#039;an akan menjadi pelindung baginya dari adzab Allah Ta&#039;ala di dunia maupun akhirat. Sehingga di katakan, orang yang mempelajari Al-Qur&#039;an akan mengamalkannya sebagai sebaik- baik manusia, karena Rasulullah Shallallahu &#039;alaihi wa sallam bersabda (yang artinya) :<br />
&quot;Sebaik-baik orang di antara kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur&#039;an dan mengajarkannya.&quot; (HR. Bukhari - Muslim).<br />
Tetapi kebaikan, keutamaan dan pahala tersebut tidak dapat di rasakan kecuali orang-orang yang diberi taufik dan hidayah Allah Ta&#039;ala agar mau beriman kepadanya, membaca, mempelajarinya, dan mampu mengaplikasikannya. Adapun orang yang ingkar terhadapnya, tidak mau beriman kepadanya, tidak mau membaca maupun mempelajarinya, apalagi mengamalkannya, maka sekali- kali dia tidak akan merasakan manfaat sedikitpun. Bahkan Al- Qur&#039;an akan menjadi sebab di hinakan dan di sesatkannya orang tersebut, dan akan menjadi hujjah (alasan) di hadapan Allah Ta&#039;ala untuk menyiksakan pada hari kiamat.<br />
Yang lebih mengherankan, ada di kalangan ummat Islam ini yang salah dalam menyikapi Al-Qur&#039;an. Mereka menjadikan Al-Qur&#039;an sebagai sarana mencari nafkah. Sebagian mereka menghapal Al- Qur&#039;an dengan tujuan agar bisa di gunakan oleh orang yang membutuhkannya dalam acara- acara pernikahan dan perayaan- perayaan tertentu. Kemudian dia mendapat upah dari bacaannya. Ada lagi yang menggunakan Al- Qur&#039;an sebagai alat mencari nafkah di pemakaman kaum muslimin. Bila ada di antara kaum muslimin yang ingin menziarahi saudaranya di perkuburan umum, maka tidak perlu repot- repot membaca ayat-ayat Al- Qur&#039;an dan menghapalkan do&#039;a- do&#039;anya. Ini baru sebagian contoh kesalahan yang merebak di masyarakat dan di anggap lumrah.<br />
Akar dari musibah memilukan ini adalah adanya keyakinan bahwa bacaan Al-Qur&#039;an yang mereka bacakan untuk orang mati itu bisa bermanfaat bagi si mayit. Sehingga mereka berlomba- lomba untuk mengamalkannya, bahkan mereka semangat untuk melakukan amalan bid&#039;ah ini lebih besar daripada untuk ibadah yang wajib, yang sangat jelas keutamaan dan faedahnya. Ambillah contoh, mereka sangat getol dalam mengamalkan bi&#039;dah ini, sementara sholat berjama&#039;ah di masjid mereka lalaikan.<br />
Harapan mereka, bacaan tersebut bisa bermanfaat bagi si mayit agar terbebas dari siksa kubur dan mendapat pahala yang terus mengalir, padahal Allah Ta&#039;ala dan Rasulnya tidak pernah mengajarkan yang demikian. Bahkan di tegaskan dalam firman-Nya bahwa sseorang tidak memperoleh pahala melainkan dari yang di usahakannya saja. Jika usahanya baik maka dia akan mendapatkan balasannya dan jika usahanya buruk dia akan mendapatkan balasannya pula. Allah Ta&#039;ala berfirman (yang artinya) :<br />
&quot;Dan bahwasanya seseorang tidak memperoleh selain apa yang telah di usahakannya. &quot;(QS. An-Najm : 39).<br />
Rasulullah Shallallahu &#039;alahi wa sallam juga menegaskan dalam sabda beliau (yang artinya) :<br />
&quot;Jika manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara : Shodaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh yang mendo&#039;akannya. &quot;(HR. Muslim).<br />
Adapun jika anak si mayit yang membaca Al-Qur&#039;an, maka pahalanya akan sampai kepadanya, karena anak adalah hasil usaha ayahnya. Ini adalah pendapat ulama, diantaranya Al- Imam Asy-Syafi&#039;i Rahimahullah.<br />
Yang perlu di pertanyakan, bagaimana mungkin Al-Qur&#039;an bisa memberi manfaat kepada si mayit, yang semasa hidupnya suka meninggalkan sholat, suka berbuat maksiat, dan perbuatan dosa yang lainnya ? Bahkan Al- Qur&#039;an sendiri malah memberinya kabar gembira dengan kecelakaan dan siksa.<br />
Allah Ta&#039;ala tidaklah menurunkan Al-Qur&#039;an yang mulia ini melainkan agar di baca, di pahami dan diamalkan isinya. Yang berupa perintah hendaknya dikerjakan dengan ikhlas dan sesuai dengan contoh dari Rasulullah Shollallahu &#039;alahi wa sallam dan para sahabatnya radhiyallahu &#039;anhum ajmai&#039;in. Adapun yang berupa larangan hendaknya di jauhi dengan sejauh-jauhnya. Dan tentu tidak ada yang dapat melakukannya melainkan orang yang hidup yang masih sehat akal dan fikirannya serta masih terjaga fitrahnya. Sehingga jelaslah, bahwa Al-Qur&#039;an memang untuk orang hidup bukan untuk orang mati.<br />
Maraji&#039; :<br />
1. Minhaj Al-Firqoh An-Najiyah, karya Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu.<br />
2. At-Tibyan fii Aadaabi Hamalatil Qur&#039;an, karya Al-Imam An- Nawawi.<br />
( Dinukil dari Buletin Al-Bayyinah, edisi 09 / 03 / 01).]]></description>
</item>
<item>
<title>Kerusakan-Kerusakan MAULID</title>
<link>http://etoeacax.mywapblog.com/post/38.xhtml</link>
<pubDate>Sun, 06 Sep 2009 03:52:00 +0000</pubDate>
<description><![CDATA[<div style="text-align:center"><img src="http://angger.wen.ru/cn/bismib.gif" /></div>
<br />
KERUSAKAN-KERUSAKAN MAULID<br />
Penulis: Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu<br />
<br />
Di dalam kitab beliau, Minhaj Al- Firqoh An-Najiyah wat Thoifah Al- Manshuroh, Asy-Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu menjelaskan kerusakan dan penyimpangan acara peringatan Maulid Nabi. Di antaranya adalah sebagai berikut:<br />
Pertama: Kebanyakan orang- orang yang mengadakan peringatan Maulid terjatuh pada perbuatan syirik, yakni ketika mereka menyanyikan bait-bait syair (nasyid-nasyid atau qosidah) pujian kepada Rasulullah dalam acara itu (yang sering di sebut sholawatan). Mereka mengatakan:<br />
يا رسول الله غوثا و مدد يا رسول الله عليك المعتمد<br />
يا رسول الله فرج كربنا ما رآك الكرْبُ إلا و شرَد<br />
&quot;Wahai Rasulullah, berilah kami pertolongan dan bantuan.<br />
Wahai Rasulullah, engkaulah sandaran kami.<br />
Wahai Rasulullah, hilangkanlah derita kami.<br />
Tiadalah derita itu melihatmu, kecuali ia akan melarikan diri. &quot;<br />
Sungguh, seandainya saja Rasulullah sholllahu &#039;alaihi wa sallam hidup dan mendengar nyanyian tersebut, tentu beliau akan menghukuminya dengan syirik besar (bahkan beliau pasti akan melarang mereka dari perbuatan tersebut). Mengapa? Karena pemberian pertolongan, tempat sandaran dan pembebasan dari segala derita hanyalah Allah Ta&#039;ala saja.<br />
Allah Ta&#039;ala berfirman:<br />
أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ<br />
&quot;Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan (siapakah pula) yang menghilangkan kesusahan....&quot;(QS. An-Naml: 62).<br />
Allah Ta&#039;ala memerintahkan Rasulullah shollahu &#039;alaihi wa sallam agar menyampaikan kepada segenap manusia:<br />
قُلْ إِنِّي لا أَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَلا رَشَدًا<br />
&quot;Katakanlah (Wahai Muhammad): &quot;Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan suatu kemudharatan pun kepadamu dan tidak pula suatu kemanfaatan....&quot; (QS. Al-Jin: 21).<br />
Bahkan Nabi Muhammad shollahu &#039;alaihi wa sallam sendiripun bersabda (dalam rangka memberi nasehat kepada Ibnu Abbas radhiyallahu &#039;anhuma dan juga umat beliau lainnya):<br />
إِذَا سَأَلْتَ فَسْأَلِ اللَّهَ ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ<br />
&quot;Bila engkau meminta, mintalah kepada Allah. Dan apabila engkau meminta pertolongan, maka mintalah pertolongan kepada Allah). &quot; HR. At-Tirmidzi, dan beliau berkata: &quot;Hadits ini Hasan Shohih&quot;<img src="http://www.mywapblog.com/images/emoticons/icon_wink.gif" alt="wink" />.<br />
Kedua: Mayoritas perayaan maulid yang diadakan itu didalam terdapat sikap Al-Ithro&#039; (berlebih-lebihan) dan menambah-nambah dalam menyanjung (memuji) Nabi shollallahu &#039;alahi wa sallam. Padahal Nabi sholallahu &#039;alaihi wa sallam melarang hal tersebut dalam sabda beliau:<br />
لاَ تــطروْنِيْ كَماَ أطرتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ فَقَوُلْوا عَبْدُ اللهِ وَ رَسُوْلِهِ<br />
&quot;Janganlah kalian berlebih- lebihan dalam memujiku, sebagaimana orang-orang Nasrani berlebih-lebihan dalam memuji Isa bin Maryam. Aku tak lebih hanya seorang hamba, maka katakanlah (tentang aku) &#039;Abdulllah (Hamba Allah) dan Rasul-Nya!&#039;&quot; (HR. Al-Bukhari).<br />
Kemudian dalam acara Maulid itu juga, sering dibacakan kitab Diba&#039; yang berisi sejarah perjuangan Nabi Muhammad shollallahu &#039;alaihi wa sallam. Dalam salah satu syair kitab ini menceritakan dan di yakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta&#039;ala menciptakan Nabi Muhammad sholallahu &#039;alahi wa sallam dari cahaya-Nya, lalu Ia menciptakan segala sesuatu dari Nur Muhammad (cahaya Muhammad).<br />
Sungguh ini adalah ucapan dusta. Sebaliknya, Rasulullah shollallahu &#039;alaihi wa sallam itu justru diciptakan Allah dengan perantara seorang bapak dan ibu. Beliau adalah manusia biasa yang dimuliakan dengan diberi wahyu oleh Allah.<br />
Bahkan mereka juga menyenandungkan syair Diba&#039; yang menyatakan bahwa Allah menciptakan alam semesta ini kerena Muhammad. Ini pun juga ucapan dusta, karena Allah Ta&#039;ala justru berfirman:<br />
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ<br />
&quot;Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. &quot;(QS. Adz-Dzaariyaat: 56).<br />
Ketiga: Dalam acara perayaan atau peringatan maulid nabi itu banyak terjadi ikhthilat, (bercampur laki-laki dan wanita dalam satu tempat, tanpa adanya hijab/tabir pemisah diantara mereka), padahal ini diharamkan dalam syariat agama kita.<br />
Keempat: Dalam penyelenggaraan acara maulid nabi ini, sering terjadi sikap tabzdir (pemborosan harta), baik untuk biaya dekorasi, konsumsi, transportasi dan sebagainya yang terkadang mencapai jumlah jutaan. Uang sebanyak itu habis dalam sekejap padahal mengumpulkannya sering dengan susuh payah, dan sesungguhnya hal itu lebih dibutuhkan umat Islam untuk keperluan lainnya, seperti membantu fakir miskin, memberi beasiswa belajar bagi anak-anak yatim dan sebagainya.<br />
Kelima: Waktu yang digunakan untuk mempersiapkan dekorasi, konsumsi dan transfortasi sering membuat lengah atau lalai para panitia peringatan maulid, sehingga tidak jarang mereka sampai meninggalkan sholat berjamaah dengan alasan sibuk atau yang lainnya.<br />
Dan tak jarang pula acara peringatan Maulid itu berlangsung hingga larut malam, akibatnya banyak di kalangan mereka tidak sholat subuh berjamaah di masjid (karena bangun kesiangan) atau bahkan ada yang tidak subuh sama sekali.<br />
Keenam: Merayakan maulid (hari kelahiran) adalah sikap tasyabbuh (meniru atau menyerupai) orang-orang kafir. Mengapa? Lihatlah, orang-orang Nasrani punya tradisi memperingati natal (hari kelahiran) Isa Al-Masih, dan juga hari natal atau ulang tahun setiap anggota keluarga mereka. Lalu, umat Islam pun ikut-ikutan merayakan bid&#039;ah tersebut. Padahal, Rasulullah shollallahu &#039;alahi wa sallam mengingatkan kita:<br />
مَنْ تَـشَـبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ<br />
&quot;Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka. &quot;(HR. Abu Dawud, shahih).<br />
Ketujuh: Sudah menjadi tradisi dalam peringatan maulid itu, bahwa di akhir bacaan maulid, sebagian hadirin berdiri, karena mereka menyakini bahwa pada waktu itu Rasulullah shallallahu &#039;alahi wa sallam hadir didalam majelis mereka. Sungguh ini adalah kedustaan yang nyata. Mengapa? Ya karena Allah Ta&#039;ala berfirman:<br />
وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ<br />
&quot;Dan di hadapan mereka (orang- orang yang telah mati) ada barzakh (dinding) sampai hari mereka dibangkitkan. &quot;(QS. Al- Mu&#039;minin: 100).<br />
Yang dimaksud barzakh (dinding) pada saat tersebut adalah pembatasan antara dunia dan akhirat, sehingga tidak mungkin orang yang telah mati bangkit atau ruhnya yang bangkit.<br />
Di samping itu, seandainya Rasulullah shollallahu &#039;alahi wa sallam masih hidup, tentu beliau tidak senang di sambut dengan cara berdiri menghormat beliau, sebagaimana dinyatakan oleh Anas bin Malik radhiyallahu &#039;anhu:<br />
&quot;Tidak ada seorang pun yang lebih dicintai oleh para sahabat daripada Rasulullah shollallahu &#039;alahi wa sallam. Tetapi jika mereka melihat Rasulullah shollallahu &#039;alaihi wa sallam mereka tidak berdiri untuk (menghormati) beliau, karena mereka mengetahui bahwa Rasulullah membenci hal tersebut. &quot;(HR. Ahmad dan At-Tirmidzi, shohih)<br />
Maroji&#039;:<br />
Minhaj Al-Firqoh An-Najiyah, karya Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu.<br />
Sumber:<br />
BULETIN DAKWAH AT-TASHFIYYAH, Surabaya Edisi: 15 / Robi&#039;ul Awal / 1425]]></description>
</item>
<item>
<title>Hati-Hati dari Temen yg buruk</title>
<link>http://etoeacax.mywapblog.com/post/37.xhtml</link>
<pubDate>Sun, 06 Sep 2009 03:37:27 +0000</pubDate>
<description><![CDATA[<div style="text-align:center"><img src="http://angger.wen.ru/cn/bismib.gif" /></div>
<br />
Hati-hati dari Teman yang Buruk , Penulis: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah<br />
<br />
Dalam sebuah hadits yang shahih disebutkan:<br />
مَثَلُ الْـجَلِيْسِ الصَّالـِحِ وَالسُّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيْرِ. فَحَامِلُ الْـمِسْكِ إِمَّا أَنْ يَحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيْحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الْكِيْرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيْحًا خَبِيْثَةً<br />
&quot;Permisalan teman duduk yang baik dan teman duduk yang jelek seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. (Duduk dengan) penjual minyak wangi bisa jadi ia akan memberimu minyak wanginya, bisa jadi engkau membeli darinya dan bisa jadi engkau akan dapati darinya aroma yang wangi. Sementara (duduk dengan) pandai besi, bisa jadi ia akan membakar pakaianmu dan bisa jadi engkau dapati darinya bau yang tak sedap.&quot; (HR. Al-Bukhari dan Muslim)<br />
Rasulullah Shallallahu &#039;alaihi wa sallam menerangkan bahwa teman dapat memberikan pengaruh negatif ataupun positif sesuai dengan kebaikan atau kejelekannya. Beliau Shallallahu &#039;alaihi wa sallam menyerupakan teman bergaul atau teman duduk yang baik dengan penjual minyak wangi. Bila duduk dengan penjual minyak wangi, engkau akan dapati satu dari tiga perkara sebagaimana tersebut dalam hadits. Paling minimnya engkau dapati darinya bau yang harum yang akan memberi pengaruh pada jiwamu, tubuh dan pakaianmu. Sementara kawan yang jelek diserupakan dengan duduk di dekat pandai besi. Bisa jadi beterbangan percikan apinya hingga membakar pakaianmu, atau paling tidak engkau mencium bau tak sedap darinya yang akan mengenai tubuh dan pakaianmu.<br />
Dengan demikian jelaslah, teman pasti akan memberi pengaruh kepada seseorang. Dengarkanlah berita dari Al-Qur`an yang mulia tentang penyesalan orang zalim pada hari kiamat nanti karena dulunya ketika di dunia berteman dengan orang yang sesat dan menyimpang, hingga ia terpengaruh ikut sesat dan menyimpang.<br />
وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَالَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلاً. يَاوَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلاً. لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا<br />
&quot;Dan ingatlah hari ketika itu orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata, &#039;Aduhai kiranya dulu aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku, andai kiranya dulu aku tidak menjadikan si Fulan itu teman akrabku. Sungguh ia telah menyesatkan aku dari Al-Qur`an ketika Al-Qur`an itu telah datang kepadaku.&#039; Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia.&quot; (Al-Furqan: 27-29)<br />
&#039;Adi bin Zaid, seorang penyair Arab, berkata:<br />
عَنِ الْـمَرْءِ لاَ تَسْأَلْ وَسَلْ عَنْ قَرِيْنِهِ فَكُلُّ قَرِيْنٍ بِالْـمُقَارَنِ يَقْتَدِي<br />
إِذَا كُنْتَ فِي قَوْمٍ فَصَاحِبْ خِيَارَهُمْ وَلاَ تُصَاحِبِ الْأَرْدَى فَتَرْدَى مَعَ الرَّدِي<br />
Tidak perlu engkau bertanya tentang (siapa) seseorang itu, namun tanyalah siapa temannya<br />
Karena setiap teman meniru temannya<br />
Bila engkau berada pada suatu kaum maka bertemanlah dengan orang yang terbaik dari mereka<br />
Dan janganlah engkau berteman dengan orang yang rendah/hina niscaya engkau akan hina bersama orang yang hina<br />
Karenanya lihat-lihat dan timbang-timbanglah dengan siapa engkau berkawan.<br />
Dampak Teman yang Jelek<br />
Ingatlah, berteman dengan orang yang tidak baik agamanya, akhlak, sifat, dan perilakunya akan memberikan banyak dampak yang jelek. Di antara yang dapat kita sebutkan di sini:<br />
1. Memberikan keraguan pada keyakinan kita yang sudah benar, bahkan dapat memalingkan kita dari kebenaran. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta&#039;ala berfirman:<br />
فَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ يَتَسَاءَلُونَ. قَالَ قَائِلٌ مِنْهُمْ إِنِّي كَانَ لِي قَرِينٌ. يَقُولُ أَئِنَّكَ لَمِنَ الْمُصَدِّقِينَ. أَئِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا وَعِظَامًا أَئِنَّا لَمَدِينُونَ. قَالَ هَلْ أَنْتُمْ مُطَّلِعُونَ. فَاطَّلَعَ فَرَآهُ فِي سَوَاءِ الْجَحِيمِ. قَالَ تَاللهِ إِنْ كِدْتَ لَتُرْدِينِ. وَلَوْلاَ نِعْمَةُ رَبِّي لَكُنْتُ مِنَ الْمُحْضَرِينَ<br />
Lalu sebagian mereka (penghuni surga) menghadap sebagian yang lain sambil bercakap-cakap. Berkatalah salah seorang di antara mereka, &quot;Sesungguhnya aku dahulu (di dunia) memiliki seorang teman. Temanku itu pernah berkata, &#039;Apakah kamu sungguh-sungguh termasuk orang yang membenarkan hari berbangkit? Apakah bila kita telah meninggal dan kita telah menjadi tanah dan tulang belulang, kita benar-benar akan dibangkitkan untuk diberi pembalasan.&quot; Berkata pulalah ia, &quot;Maukah kalian meninjau temanku itu?&quot; Maka ia meninjaunya, ternyata ia melihat temannya itu di tengah-tengah neraka yang menyala-nyala. Ia pun berucap, &quot;Demi Allah! Sungguh kamu benar-benar hampir mencelakakanku. Jikalau tidak karena nikmat Rabbku pastilah aku termasuk orang- orang yang diseret ke neraka.&quot; (Ash-Shaffat: 50-57)<br />
Dengarkanlah kisah wafatnya Abu Thalib di atas kekafiran karena pengaruh teman yang buruk. Tersebut dalam hadits Al- Musayyab bin Hazn, ia berkata, &quot;Tatkala Abu Thalib menjelang wafatnya, datanglah Rasulullah Shallallahu &#039;alaihi wa sallam. Beliau dapati di sisi pamannya ada Abu Jahl bin Hisyam dan Abdullah bin Abi Umayyah ibnil Mughirah. Berkatalah Rasulullah Shallallahu &#039;alaihi wa sallam, &#039;Wahai pamanku, ucapkanlah Laa ilaaha illallah, kalimat yang dengannya aku akan membelamu di sisi Allah.&#039; Namun kata dua teman Abu Thalib kepadanya, &#039;Apakah engkau benci dengan agama Abdul Muththalib?&#039; Rasulullah Shallallahu &#039;alaihi wa sallam terus menerus meminta pamannya mengucapkan kalimat tauhid. Namun dua teman Abu Thalib terus pula mengulangi ucapan mereka, hingga pada akhirnya Abu Thalib tetap memilih agama nenek moyangnya dan enggan mengucapkan Laa ilaaha illallah. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)<br />
2. Teman yang jelek akan mengajak orang yang berteman dengannya agar mau melakukan perbuatan yang haram dan mungkar seperti dirinya. Allah Subhanahu wa Ta&#039;ala berfirman tentang munafikin:<br />
وَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُوا فَتَكُونُونَ سَوَاءً<br />
&quot;Mereka menginginkan andai kalian kafir sebagaimana mereka kafir hingga kalian menjadi sama.&quot; (An-Nisa`: 89)<br />
3. Tabiat manusia, ia akan terpengaruh dengan kebiasaan, akhlak, dan perilaku teman dekatnya. Karenanya Rasulullah Shallallahu &#039;alaihi wa sallam bersabda:<br />
الرَّجُلُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ<br />
&quot;Seseorang itu menurut agama teman dekat/sahabatnya, maka hendaklah salah seorang dari kalian melihat dengan siapa ia bersahabat1 .&quot; (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi. Dishahihkan Asy- Syaikh Al-Albani dalam Ash- Shahihah no. 927)<br />
4. Melihat teman yang buruk akan mengingatkan kepada maksiat sehingga terlintas maksiat dalam benak seseorang. Padahal sebelumnya ia tidak terpikir tentang maksiat tersebut.<br />
5. Teman yang buruk akan menghubungkanmu dengan orang-orang yang jelek, yang akan memudaratkanmu.<br />
6. Teman yang buruk akan menggampangkan maksiat yang engkau lakukan sehingga maksiat itu menjadi remeh/ringan dalam hatimu dan engkau akan menganggap tidak apa-apa mengurangi-ngurangi dalam ketaatan.<br />
7. Karena berteman dengan orang yang jelek, engkau akan terhalang untuk berteman dengan orang-orang yang baik/shalih sehingga terluputkan kebaikan darimu sesuai dengan jauhnya engkau dari mereka.<br />
8. Duduk bersama teman yang jelek tidaklah lepas dari perbuatan haram dan maksiat seperti ghibah, namimah, dusta, melaknat, dan semisalnya. Bagaimana tidak, sementara majelis orang-orang yang jelek umumnya jauh dari dzikrullah, yang mana hal ini akan menjadi penyesalan dan kerugian bagi pelakunya pada hari kiamat nanti. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu &#039;alaihi wa sallam:<br />
مَا مِنْ قَوْمٍ يَقُوْمُوْنَ مِنْ مَجْلِسٍ لَمْ يَذْكُرُوا اللهَ تَعَالَى فِيْهِ، إِلاَّ قَامُوْا عَنْ مِثْلِ جِيْفَةِ حِمَارٍ وَكَانَ لَهُمْ حَسْرَةً<br />
&quot;Tidak ada satu kaum pun yang bangkit dari sebuah majelis yang mereka tidak berzikir kepada Allah ta&#039;ala dalam majelis tersebut melainkan mereka bangkit dari semisal bangkai keledai2 dan majelis tersebut akan menjadi penyesalan bagi mereka.&quot; (HR. Abu Dawud. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Ash- Shahihah no. 77)<br />
Demikian... Semoga ini menjadi peringatan!<br />
(Dinukil secara ringkas dengan perubahan dan tambahan oleh Ummu Ishaq Al-Atsariyah dari kitab Al-Mukhtar lil Hadits fi Syahri Ramadhan, hal. 95-99)<br />
1 Seseorang akan berperilaku seperti kebiasaan temannya dan juga menurut jalan serta perilaku temannya. Maka hendaknya setiap kita merenungkan dan memikirkan dengan siapa kita bersahabat. Siapa yang kita senangi agama dan akhlaknya maka kita jadikan ia sebagai teman, dan yang sebaliknya kita jauhi. Karena yang namanya tabiat akan saling meniru dan persahabatan itu akan berpengaruh baik ataupun buruk. (Tuhfatul Ahwadzi, kitab Az-Zuhd, bab 45)<br />
2 Sama dengan bangkai keledai dalam bau busuk dan kotornya. (&#039;Aunul Ma&#039;bud, kitab Al-Adab, bab Karahiyah An Yaqumar Rajulu min Majlisihi wala Yadzkurullah)]]></description>
</item>
<item>
<title>Tarif Xl</title>
<link>http://etoeacax.mywapblog.com/post/36.xhtml</link>
<pubDate>Thu, 03 Sep 2009 22:41:26 +0000</pubDate>
<description><![CDATA[Xl emang murah meriah buat ngapain aja !<br />
1.PAKET NELPON0 SESAMA XL<br />
a. Paket murah sampai puas<br />
*00.00-11.00WIB. &gt;&gt; Pake Rp 300 (Rp.20/dtk hingga dtk ke-15),langsung nlpon cma Rp.0,01(grtis).<br />
*11.00 - 17.00 WIB. &gt;&gt;Pake 900 (Rp.20/dtk hingga dtk ke-45),langsung nlpon cma Rp.0,01(grtis).<br />
*17.00 - 24.00 WIB. &gt;&gt;Pake Rp.1.800 (Rp.20/dtk hingga dtk ke-90),langsung nlpon cma Rp.0,01(grtis).<br />
<br />
2. NELPON KE OPERATOR LAIN.<br />
* 24 JAM &gt;&gt;Rp.25/dtk hingga menit ke-2,menit ke-2 hingga ke-10 Rp.0,01(grtis) selanjutnya Rp.10/dtk. Catatan: Bayar 2 menit dapat 10 menit,selanjutnya berlaku tarif Rp.10/dtk.<br />]]></description>
</item>
<item>
<title>Peringatan gempa kpd kita</title>
<link>http://etoeacax.mywapblog.com/post/35.xhtml</link>
<pubDate>Thu, 03 Sep 2009 21:33:02 +0000</pubDate>
<description><![CDATA[<div style="text-align:center"><img src="http://angger.wen.ru/cn/bismib.gif" /></div>
Subhannallah,telah engkau tunjukkan kebesaranmu di dunia ini.<br />
Sebuah musibah yg engkau berikan pd hari, rabo tgl: 2-09-2009. Jm 15:00.<br />
Kau tunjukan kekuatan mu,engkau goncangkan bumi ini hingga ,rumah ,perkantoran. Sampai roboh dan orang 2 sampai meninggal.<br />
Apakah ini sebuah peringatan bagi kami,seperti yg diterangkan dlm kitab Alqur&#039;an dlm surat Al-An&#039;am (Qs.6:6) yaitu:<br />
tidakkah mereka memperhatikan berapa banyak generasi sebelum mereka yg telah kami binasakn,padahal (generasi itu), telah kami teguhkan kedudukannya di bumi,yaitu keteguhan yg belum pernah kami berikan kpdmu. Kami curahkan hujan yg lebat utk mereka dan kmi jdikan sungai-sungai mengalir dibwh mereka,kemudian kami binasakan mereka karena dosa2 mereka sendiri,dan kami ciptakan generasi yg lain setelah generasi mereka.<br />
Apakah kita mau sepeti yg di katakan ayat diatas.Yg akan dibinasakan dan di ganti generasi yg lebih baik sebelumnya.<br />
Makanya sekarang kita renungkan apakah ada yg salah yg kita lakukan di dunia ini,sampai Allah memberi musibah seperti ini ?]]></description>
</item>
<item>
<title>Burung</title>
<link>http://etoeacax.mywapblog.com/post/34.xhtml</link>
<pubDate>Thu, 03 Sep 2009 15:50:42 +0000</pubDate>
<description><![CDATA[<img src="http://etoeacax.mywapblog.com/files/photo.jpg" /><br />
<br />
<img src="http://etoeacax.mywapblog.com/files/photo_3.jpg" /><br />
<br />
<br />
Colexi burung ku yg manis ?<br />]]></description>
</item>
</channel>
</rss>